Presiden Idealis Termiskin dan Kontroversial

Di dunia ini baru ada dua presiden penyandang ikon paling idealis, paling miskin, dan kontroversial. Yang pertama ialah Ahmadinejad Presiden Iran, dan yang kedua Jose Mujica Presiden Uruguay.

Apakabardunia pernah membahas Ahmadinejad, maka sekarang giliran Jose Alberto Mujica Cordano. Tentu sudah banyak yang tahu bila Jose menjadi presiden termiskin karena dari gajinya setiap bulan, 90 persen - setara 12.000 dollar AS atau hampir Rp 120 juta - didonasikan untuk berbagai kegiatan amal.
 

 lo-de-alla.org

Artinya, dengan mendonasikan sebagian besar gajinya sebagai presiden untuk rakyat miskin dan pengusaha kecil, maka setiap bulan Mujica hanya menerima kurang dari Rp 800.000. 

Pada 2010, ketika kekayaan pribadinya diumumkan—yang merupakan kewajiban pejabat publik Uruguay, saat itu total kekayaan Mujica hanya 1.000 dollar AS atau kurang dari Rp 10 juta. Uang sebanyak itu hanya bisa digunakan untuk membeli sebuah mobil VW Beetle keluaran 1987.

Bukan itu saja, Jose yang kerab dipanggil Pepe ini  juga menolak tinggal di kediaman resmi kepresidenan di ibu kota, Montevideo. Mujica lebih memilih tinggal di tanah pertanian di luar ibu kota. Bahkan, jalan menuju kediaman Mujica belum dilapisi aspal.

Tak ada penjagaan ketat pasukan elite kepresidenan. Hanya dua polisi dan anjingnya yang hanya memiliki tiga kaki, Manuela, yang terlihat mengawasi di pintu masuk pertaniannya. Di pertaniannya, Mujica dan istrinya bahkan menanam sendiri bunga-bunga yang menjadi pemasukan baginya.

Kehidupan Jose mungkin membuat banyak orang terheran-heran, bagaimana mungkin orang nomor satu bisa berlaku seperti ini.

"Hampir seluruh hidup saya habiskan dengan cara seperti ini. Saya bisa hidup baik dengan apa yang saya miliki saat ini," kata Mujica sambil duduk di sebuah kursi tua di kebunnya.

Bila kita mencari sosok inspiratif seorang pemimpin sejati, rasanya layak Jose menjadi kadidat terbaik di masa sekarang.

Seseorang berpandangan idealis biasanya hanya saat menjadi mahasiswa atau aktif dalam pergerakan di masa muda. Biasanya sikap revolusioner ini akan pudar dengan sendirinya saat usia bertambah, apalagi ketika "kursi empuk" dalam pemerintahan ditawarkan padanya. Anda pasti bisa melihat sendiri pada semua tokoh yang sekarang menjadi pragmatis padahal dulu saat era reformasi begitu vokal, bukan?
 

 thehindu.com

Tidak demikian halnya dengan Pepe. Di masa muda, selama 1960-an sampai 1970-an, dia adalah anggota pemberontak Tupamaros, kelompok bersenjata berhaluan kiri yang terinspirasi revolusi Kuba. Dia pernah enam kali tertembak dan mendekam 14 tahun di  penjara. Sebagian besar masa penahanannya dilalui dalam kondisi yang sangat buruk dan dalam sel isolasi.

Namun, masa-masa pahit yang penuh perjuangan itu tetap meneguhkan hati dan pandangan Pepe yang idealis. Dia tidak serta-merta jadi "aji mumpung" ketika kedudukan datang menghampirinya. Sebelum menjadi presiden, Pepe menjadi senat dan kemudian di tahun 2005 diangkat sebagai Menteri Peternakan Pertanian dan Perikanan oleh Presiden Urugay Tabaré Vázquez. Di tahun 2008 Pepe mundur dan kembali menjadi senat hingga akhirnya terpilih sebagai Presiden tahun 2009.


Kontroversial

Sebagai Presiden Uruguay, Pepe baru-baru ini menelurkan keputusan kontroversial masalah legalisasi ganja. Apa alasannya?

Selama puluhan tahun, Uruguay dan negara-negara kawasan Amerika Latin terkenal dengan kartel narkoba yang sering menimbulkan aksi kekerasan. Monopoli harga dan perdagangan juga jadi mainan para kartel. Mereka yang sebenarnya jadi pengendali roda pemerintahan di negara-negara tersebut.

 


Solusi Jose Mujica yang melegalkan ganja sekaligus mengambil alih posisi negara pemasok tunggal akan menghantam para kartel tersebut.  Keterlibatan sebuah negara seperti Uruguay yang merusak harga pasaran ganja karena jauh lebih murah daripada harga di pasar gelap secara tidak langsung "mengerdilkan" kekayaan para kartel.

Nyatanya pemerintahan Uruguay tetap mengendalikan sisi legalitas ini. Kepemilikan ganja diperbolehkan, tetapi bisnis jual-beli dan distribusi tetap ilegal. Penjualan akan dikenakan pajak.

Terkadang keputusan seperti yang diambil Jose tidak bisa diterima oleh akal sehat. Walau mungkin ada manfaat yang dirasakan. Sebagai perbandingan, Ali Sadikin saat menjabat Gubernur Jakarta di tahun 1970-an melegalkan judi dan pelacuran dengan pengawasan tentunya. Hasilnya, Jakarta tumbuh pesat masa tersebut karena penghasilan daerah menjadi gemuk.

Demikian juga sikap Jose Mujica. Menjadi idealis dan kontroversial tentu pilihan hidupanya.

"Banyak yang mengatakan saya orang tua gila atau eksentrik, tapi ini adalah masalah pilihan," ungkap Jose.

Apakah salah disebut gila namun menghasilkan perubahan positif bagi banyak orang, dan menjadi teladan sebuah keteguhan hati? Bukankah seharusnya sosok pemimpin sejati seperti ini?








Sumber: