Jejak sungai purba di jawa
Di Laut Jawa itu dan Selat Malaka itu,
Molengraaff dari tahun 1919 telah memetakan alur-alur sungai yang
tenggelam (drowning river system) yang terbagi menjadi dua alur sungai
utama, yang dinamainya Sungai Sunda Utara di bawah Selat Malaka dan
Sungai Sunda Selatan di bawah Laut Jawa. Nama lain kedua alur utama
sungai itu juga sering disebut sebagai Sistem Sungai Molengraaff,
mengikuti nama penemunya. Sungai Sunda Utara mempunyai daerah hulu di
Sumatra dan Kalimantan Barat, dan bermuara ke Laut Cina Selatan,
sedangkan Sungai Sunda Selatan mempunyai hulu di Jawa dan Kalimantan
Selatan dengan muara di Selat Makassar. Lembah-lembah sungai yang
terbenam ini sebagian sudah tertimbun lumpur. Tetapi penelitian geologi
kelautan sejak akhir 1950-an oleh beberapa ekspedisi kelautan bekerja
sama dengan pihak asing telah dapat mengenal keberadaan sungai2 besar
ini. Dua lembah sungai besar di selatan Kalimantan Selatan, sebelah
selatan Sampit, misalnya ditunjukkan di buku bagus tentang oseanografi
Indonesia tulisan Anugerah Nontji (Djambatan, 1987): “Laut Nusantara”.
Lebar lembah2 sungai ini
antara 400-500 meter, dasar sungai purba ini 17-24 meter lebih dalam daripada dasar laut sekitarnya, dan terisi oleh endapan setebal 8-15 meter.
antara 400-500 meter, dasar sungai purba ini 17-24 meter lebih dalam daripada dasar laut sekitarnya, dan terisi oleh endapan setebal 8-15 meter.
Weber juga menunjukkan bahwa adanya
sistem sungai-sungai Sunda ini dibuktikan oleh banyaknya persamaan jenis
ikan tawar di sungai2 pesisir timur Sumatra dengan ikan2 di pesisir
barat Kalimantan, padahal antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur
tidak ada persamaan.
Karena glasiasi-deglasiasi yang terus
terjadi secara siklus di wilayah Paparan Sunda, sehingga saat glasiasi
air laut menyurut dan turun lalu menyingkapkan paparan menjadi daratan
(Sundaland) sebab air laut tertarik ke kutub2 Bumi menjadi es; dan saat
deglasiasi terjadi pencairan es di kutub2 Bumi lalu air laut di mana2
naik, maka Sundaland kembali tenggelam menjadi Paparan Sunda (Sunda
Shelf).
Hasil penelitian geologi dapat
menunjukkan jejak sejarah Paparan Sunda dan Sundaland. Kira2 170.000
tahun lampau muka laut berada kira-kira 200 meter lebih rendah dari
sekarang, tersingkaplah Sundaland. Lalu dalam 125.000 tahun terakhir,
air laut ini secara bertahap naik, tetapi belum mencapai posisi seperti
sekarang. Pada sekitar 7000 tahun yang lalu, posisinya seperti
sekarang, 4000 tahun yang lampau 5 m melampaui posisi sekarang, lalu
turun lagi dan sejak 1000 tahun yang lalu posisinya sudah seperti
sekarang.
Yang namanya siklus glasiasi dan
deglasiasi tak pernah terjadi mendadak turun atau naik, apalagi terjadi
dalam semalam seperti banjir dalam dongeng Atlantis yang dituturkan
Plato. Dan yang namanya sistem sungai2 Sunda tak berhubungan dengan
peradaban tinggi ala dongeng Atlantis. Kecuali kalau submarine
archaeology kelak menemukan banyak bukti2 kebudayaan tinggi terkubur di
lembah2 sungai2 Sunda itu tetapi bukan berasal dari kapal karam modern,
bolehlah kita mendiskusikannya lagi soal kaitan lembah sungai tenggelam
ini dengan peradaban tinggi itu.