Posted by Die_ka
Senin, 05 November 2012
1. The Shark
The
Shark menjadi paling terkenal dari penduduk Headington ketika mendarat
di atap rumah jalan 2 New High Street pada tanggal 9 Agustus 1986.
rumah ini biasa-biasa saja (dibangun sebagai rumah semi-terpisah pada
sekitar 1860 namun sekarang melekat oleh pranala ke rumah kedua di
sebelah utara) tiba-tiba menjadi pusat perhatian dunia, dan tanpa
kepala hiu masih tetap eksis hari ini.
Lokasi: 2 Baru High Street, Headington, Oxford, Inggris
2. BomJu Ku
Terletak di Seoul, Korea, di depan Museum Bukcheon. Pematung adalah BomJu Ku. Lokasi: Seoul
3. Magic kran
Magic
kran, yang muncul melayang di langit dengan pasokan air tak ada
habisnya. Pada kenyataannya, ada pipa tersembunyi dalam aliran air.
Lokasi: Aqualand, Cadiz, Spanyol
4. Charles La Trobe
Representasi
kontemporer Charles La Trobe di pusat kota Melbourne (sementara ini
instalasi telah dihapus pada akhir Juni 2006 dan telah diakuisisi oleh
La Trobe University).
Lokasi: Melbourne, Australia
5. Patung Di Santa Fe
Location: Santa Fe, New Mexico, the United States
6. Ernst & Young
Saya yakin kita semua merasa seperti ini pada Senin pagi. Ini yang saya sebut sejati kehidupan seni.
Lokasi: Di depan bangunan Ernst & Young, New York
7. Patung Badak Potsdam, Germany
Ditemukan di sebuah persegi di Budapest.Location: Budapest, Hungaria
9. Patung perunggu
Patung
perunggu ini terletak di zona pejalan kaki di Bratislava. konon
sebagian penduduk mempercayai jika menggosok hidung patung tersebut akan
memiliki keberuntungan. Lokasi: Bratislava, Slovakia
Fremont
Troll terletak di bawah ujung utara jembatan Aurora sejak tahun 1990.
patung ini di buat oleh empat seniman dari Seattle (Steve Badanes, Will
Martin, Donna Walter dan Ross Whitehead) untuk Dewan Kesenian Fremont.
tinggi Kepala-dan-bahu patung adalah 18-ft.Lokasi: jembatan Aurora ,
Seattle, Washington
Posted by Die_ka
Minggu, 28 Oktober 2012
Posted by Die_ka
Kamis, 25 Oktober 2012

Andre Graff berada di dalam salah satu sumur buatannya. Ia telah membantu warga Sumba mendapatkan air bersih.
Dari Balon Udara ke Sumur Sumba
24. October 2012, 11:58:41 SGT
Selama
lebih dari 20 tahun, Andre Graff menghabiskan waktunya di langit
pelbagai negara dengan menggunakan balon udara. Namun kini, kehidupannya
berbalik. Dalam upaya mendapatkan air di Pulau Sumba, Andre menggali
tanah sampai dalam. Selama delapan tahun terakhir, lelaki Perancis
berusia 55 tahun ini wira-wiri di salah satu provinsi termiskin di
Nusantara. Di beberapa wilayah Sumba yang padat penduduk, warga harus
berjalan sejauh satu kilometer untuk mencari sumber air bersih. Di
tempat-tempat seperti inilah Andre menggali sumur. Ia pun mesti mencari
cara memompa serta mengalirkan air yang baru temukannya ke desa-desa
terdekat.
Potret kehidupan Andre di Sumba kerap dilakukan
beberapa pelancong berjiwa petualang yang datang ke negara-negara
berkembang seperti Indonesia dan tergerak hatinya untuk membantu. Upaya
mereka membuka kenyataan bahwa pembangunan masih tidak merata.
Kemakmuran seperti yang biasa dilihat kaum ekspatriat di Bali dan
Jakarta tidak sampai ke pelosok. Andre hidup sendirian di dekat desa
Waru Wora di sebuah rumah sederhana terbuat dari bambu beratapkan
jerami. Di rumah dua lantai itu, laptop, telepon seluler, dan listrik
PLN yang baru terpasang tahun ini, adalah sebuah kemewahan. Andre
bekerja sendirian. Upayanya tidak terhubung dengan organisasi atau
perusahaan tertentu. Hidupnya bersandar pada uang sewa rumah miliknya di
Perancis.
Warga setempat telah menganggap Andre bagian dari
mereka. Dan seperti penduduk Sumba lain, ia sering dijangkiti malaria.
“Awalnya saya tak berniat datang dan tinggal di sini,” ujarnya kepada
Wall Street Journal lewat telepon. “Namun, dalam perjalanan hidup, saya
sering bertemu orang yang mengharuskan saya memilih. Saya belajar lebih
banyak dari pengalaman hidup delapan tahun di Sumba dibandingkan 47
tahun hidup saya di Eropa.” Problem air bersih di Sumba mencerminkan
masalah yang mendera Indonesia secara umum. Kondisi alam Nusantara yang
dipisahkan oleh perairan membuat wilayah terpencil sulit merasakan
manfaat pembangunan. Desentralisasi kekuasaan yang marak dipraktikkan
pasca kejatuhan Suharto memungkinkan pemerintah daerah memiliki kendali
lebih besar atas anggaran. Namun, ketimpangan sosial dan pendapatan di
tempat-tempat seperti Sumba dan Jawa kian meningkat karena banyak
penduduk memilih datang ke pusat-pusat bisnis ketimbang mengembangkan
pulau-pulau yang jauh.
Pemerintah marak mencanangkan program
pengentasan kemiskinan di Sumba. Selain itu, sejumlah LSM lokal sudah
sering mencoba membuat sumur dan penyimpanan air. Namun, program-program
itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tiap warga mendapatkan air
bersih. Andre menyebutkan puluhan penampung air yang kosong dan dibuang
sembarangan di banyak tempat sebagai bukti atas buruknya perencanaan.
Menurutnya beberapa pihak tidak memiliki kesabaran untuk merencanakan
program yang mampu bertahan dalam jangka panjang. Banyaknya penampung
air kosong yang berceceran dan terpanggang matahari di wilayah itu
menjadi bukti kegagalan sejumlah program itu.

Andre, datang dari
daerah hijau Alsace di sebelah timur laut Perancis. Tiba di Sumba pada
2004 saat kariernya sebagai pemilik bisnis balon udara harus terhenti
akibat penyakit Lyme. ”Tinggal di Perancis dan menikmati jaminan
kesehatan bukan yang saya inginkan,”katanya. Dengan niat menempuh
petualangan baru, ia lantas berlibur ke Bali dan mengambil paket
perjalanan ke Nusa Tenggara Timur selama tiga minggu dengan kapal laut.
“Saya jatuh cinta dengan daerah itu,” ujarnya. “Sedikit demi sedikit,
saya jadi tahu kesulitan yang dihadapi oleh orang-orang yang saya temui.
Khususnya kesulitan mendapatkan air bersih.”
Hampir setengah
dari rumah tangga di Nusa Tenggara Timur bersandar pada mata air sebagai
sumber utama air bersih – angka tertinggi di Indonesia. Untuk
mendapatkannya, mereka harus berjalan lebih dari satu kilometer jauhnya
ke sungai dan sumber mata air. Pada musim kemarau, aliran air berhenti
di beberapa tempat. Sementara itu, banyak kelompok masyarakat yang tak
memiliki dana serta kecakapan dalam membangun lebih banyak sumur. Tak
hanya masalah air, Sumba memiliki masalah lain seperti buruknya
pelayanan dan fasilitas kesehatan serta langkanya aliran listrik. Banyak
diantara sekitar 600 ribu penduduk kerap dijangkiti malaria dan
tuberculosis.
Andre kembali ke Sumba setahun setelah
perjalanannya yang pertama. Di Waru Wora, ia belajar cara membuat sumur
sederhana namun kua. Pengetahuan yang ia miliki tentang agronomi dan
meteorologi ia manfaatkan untuk mempelajari hal-ihwal air tanah di
Sumba. Ia menggali lusinan sumur yang rata-rata membutuhkan biaya antara
Rp7 juta hingga Rp15 juta dengan sokongan koperasi yang ia bentuk.
Proyek itu menggunakan dana gabungan dari uangnya sendiri, sumbangan
yang dikumpulkan di Perancis, dan sokongan pemerintah setempat. Butuh
waktu sekitar dua minggu hingga dua bulan untuk membangun sumur. Uang
dan lokasi sulit jadi masalah utama. Ia juga harus meminta izin dari
pemerintah untuk menjalankan proyek. Dalam bekerja, Andre menggunakan
alat-alat miliknya, yang dikumpulkan selama bertahun-tahun. Ia juga
membuat cor-coran sumur di rumahnya sendiri.
Pada 2011, ia
membangun pompa bertenaga surya untuk mengaliri air langsung ke
rumah-rumah milik sekitar 800 orang, prestasi yang menarik minat para
pejabat di daerah-daerah tetangga. “Usahanya berhasil,” kata Kornelis
Kodi Mete, Bupati Sumba Barat Daya. “Ia telah menjadi bagian masyarakat.
Mungkin terdengar aneh untuk orang Jakarta. Tapi dia punya pengaruh
positif di sini. Orang-orang menyambutnya ke mana pun ia pergi,”
Andre
mengaku bisa bekerja selama 18 jam pada musim kemarau, saat menggali
tanah terasa lebih mudah. Di sela-sela pekerjaan, ketika cuaca sedang
tidak menentu, ia mengisi waktu dengan mengirim email, bekerja di rumah,
dan bergaul. Ia ke Jakarta, Bali, atau Singapura beberapa kali dalam
setahun. Namun sudah bertahun-tahun ia tak pulang ke Perancis. Ia kuliah
di jurusan biologi di Université Louis-Pasteur, Alsace. Pada akhir
tahun 1970an, ia ambil bagian dalam gerakan “kembali ke bumi” dengan
berpindah-pindah dari satu pertanian ke pertanian lain di Eropa. Andre
kerap berpartisipasi dalam acara kemanusiaan. Dalam salah satu acara, ia
berhasil menjadi penerbang balon udara pertama yang mencapai Rumania.
Motivasinya
muncul ketika ia melihat hidup tetangganya bisa berubah jika dalam
seharian tak mendapatkan air. Ia lebih memilih menyebut dirinya
“penduduk Bumi” daripada warga Perancis. Ketika menyaksikan ada hidup
yang berubah, ia menamai kesenangan itu “pengalaman puitis.” Ia lebih
realistis ketika berbicara tentang usahanya di Sumba. “Kesempurnaan
bukanlah tujuan. Kita takkan pernah mendapatkan situasi ideal di mana
pun. Tak ada satu pun tempat di dunia yang bisa menyelesaikan problem
air bersih.” Andre tak punya rencana khusus untuk tinggal selamanya di
Sumba. Ia juga tak memiliki rencana untuk hengkang dari tempat itu.
Namun, menurutnya, ada cukup alasan untuk tetap beralamatkan hutan dalam
dua tahun ke depan. “Ketika muda, saya berpikir layaknya anak muda,
yakni memiliki karier,” ujarnya. “Kini, saya rasa lebih menyenangkan
jika membiarkan hidup berjalan apa adanya.”
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ada
resep sederhana kalau anda ingin menjadi manusia yang damai, dihargai
orang dan bahagia. Yaitu, senantiasalah bersifat suka memberi. Dan
jadikanlah keberadaan anda dimana saja, senantiasa bermanfaatn besar
bagi orang lain. D.p.l. jadilah manusia yang paling bermanfaat bagi
makhluk lainnya di muka Bumi ini