Tampilkan postingan dengan label Mitologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mitologi. Tampilkan semua postingan

13 Dewa-Dewi dalam Mitologi Etrusca

Bangsa Etrusca
Minimnya hasil budaya yang ditemukan, menyebabkan para ahli sejarah masih belum banyak dapat menyingkap bangsa Etrusca. Namun ciri-ciri hasil karyanya dapat ditemukan pula di Roma.
Diperkirakan bangsa Etrusca berhubungan denga Asia Minor dan Near East Ancient. Penemuan yang dapat bercerita tantang bangsa Etrusca hanyalah tulisan pada makam dan beberapa teks panjang yang bercerita tentang ritual keagamaan.


Spoilerfor Dewa-Dewi:

Aita

Aita atau Eita adalah dewa dan penguasa Dunia Bawah dalam mitologi Etruska, mirip dengan Hades dalam mitologi Yunani dan Pluto dalam mitologi Romawi. Dia digambarkan hanya dalam sedikit lukisan makam Etruska, misalnya pada makam Golini dari Orvieto dan makam Orcus II dari Tarquinia. Aita juga digambarkan bersama istrinya Phersipnei, padanan Etruska bagi Persefone dari Yunani atau Proserpina dari Romawi.
Dia dgambarkan sebagai pria berjanggut yang memakai topi kulit serigala. Dia ditampilkan bersama istrinya Phersipnei yang bermahkotakan ular pada lukisan pada Makam Orcus. Padanan Yunaninya, Hades, juga memiliki penutup kepala, namun topi kepala Hades memiliki kemampuan khusus, yaitu membuat pemakainya menjadi tak terlihat.
Ada juga penggambaran Aita yang sedang menuntun para arwah menuju Dunia Bawah.

Spoilerfor Dewa-Dewi:

Alpan

Alpan atau Alpanu adalah dewi Dunia Bawah. Dia juga merupakan dewi nafsu seksual. Dia kadang digambarkan mengenakan jubah dan sandal yang longgar, dan sering pula telanjang. Dia biasanya memakai banyak perhiasan.

Spoilerfor Dewa-Dewi:

Aplu

plu adalah dewa cahaya dan cuaca. Apulu atau Aplu seringkali disamakan dengan dewa Apollo dari Yunani. Dia biasanya digambarkan dengan daun salam, dan kadang dengan mengenakan jubah, atau dalam keadaan telanjang. Simbolnya adalah tongkat dan ranting salam.

Spoilerfor Dewa-Dewi:

Charun

Charun atau Charu atau Karun adalah iblis atau dewa yang bertugas di Dunia Bawah dalam mitologi Etruska. Dia adalah penjaga gerbang menuju Dunia Bawah. Dia seringkali digambarkan bersama Vanth, dewi bersayap yang juga berkaitan erat dengan Dunia Bawah.
Namanya diambil dari nama tokoh Kharon dari mitologi Yunani, yang memang memiliki perang yang mirip dengan Kharon, yairu sebagai pendayung perahu pengantar para arwah menuju Dunia Bawah.
Charun digambarkan dalam sosok yang menakutkan. Dia memegang palu godam, yang merupakan simbol keagamaannya, dan dia juga ditampilkan dengan telinga runcing, ular melingkar di lengannya, serta warna kulit yang kebiruan yang melambangkan pembusukan akibat kematian. Dalam beberapa prasasti, dia memiliki sayap besar. Charun juga digambarkan sebagai sososok makhluk besar dengan rambut mirip ular, hidung bengkok mirip burung hering, siung besar mirip babi hutan, alis panjang, bibir besar, mata berapi, telinga lancip, janggut hitam, sayap besar, kulit berwarna tak wajar (pucat, biru, atau abu-abu), dan ular melingkari lengannya. Gambaran Kharun yang menakutkan itu kemungkinan dipercaya oleh orang Etruska dapat menjauhkan roh jahat dari makam.

Spoilerfor Dewa-Dewi:

Februus

Februus adalah dewa penyucian dalam mitologi Etruska. Dia juga merupakan dewa Dunia Bawah. Selain itu, Februus juga merupakan dewa kekayaan dan kematian, mirip dengan dewa Hades dari Yunani maupun dewa Pluto dari Romawi, yang kesemuanya merupakan dewa Dunia Bawah dan kekayaan.
Februus kemungkinan diserap oleh orang Romawi menjadi Febris, dewi demam dan malaria. Ini mungkin berkaitan dengan keringat demam, yang dianggap sebagai proses penyucian.
Bulan suci bagi dewa Februus adalah Februarius (atau Februa), yang kemudian menjadi bulan Februari dalam bahasa Indonesia. Nama dewa Februus, dan juga nama bulan Februarius kemungkinan dinamai dari festival penyucian dan pembersihan mata air, yaitu festival Februa (atau Februalia dan Februatio), yang dilakukan setiap tanggal 15 bulan tersebut.

Spoilerfor Dewa-Dewi:

Fufluns

Fuflans atau Puphluns adalah dewa anggur, kehidupan tanaman, kebahagiaan, dan pertumbuhan dalam mitologi Etruska. Dia dikaitkan dengan dewa anggur dari mitologi Romawi, yakni Liber. Dia adalah putra Semla. Dia disembah di Populonia atau Fufluna.

Spoilerfor Dewa-Dewi:

Hercle

Hercle menyusu pada Uni.
Hercle atau Heracle atau Hercl adalah pahlawan dan manusia setengah dewa dalam mitologi Etruska. Hercle diserap dari Herakles, pahlawan dari mitologi Yunani, dan dia juga dikaitkan dengan Hercules, pahlawan serupa dari mitologi Romawi.
Dewi Uni memberikan Hercle kehidupan abadi di antara para dewa dengan cara membiarkan Hercle mengisap payudaranya dan menyedot air susunya.

Spoilerfor Dewa-Dewi:

Laran

Laran adalah dewa perang. Laran biasanya digambarkan sebagai pemuda yang memakai helm dan membawa tombak serta mengenakan jubah. Laran juga kadang digambarkan telanjang namun sambil membawa senjata. Istri Laran adalah Turan, yang kemudian diserap menjadi dewi Venus oleh orang Romawi. Pada perkembangan selanjutnya, Laran digabungkan dengan Ares, dewa perang dari mitologi Yunani, untuk kemudian mengahsilkan dewa perang Romawi, Mars.

Spoilerfor Dewa-Dewi:

Menrva

Menrva adalah dewi seni dan perang. Dewa Minerva dari Romawi kemungkinan berasal dari dewi Menrva ini. Banyak atribut Menrva diserap dari dewi Athena dari Yunani, namun Menrva tetaplah merupakan dewi yang berbeda dari Athena. Tidak seperti Athena yang merupakan dewi perawan, Menrva adalah dewi yang menganjurkan pernikahan dan kelahiran anak.
Menrva adalah dewi yang kuat dan terkenal; bersama dengan Tin dan dewi Uni, mereka membentuk triad pantheon Etruska yang berkuasa.

Spoilerfor Dewa-Dewi:

Nethuns

Nethuns adalah dewa air tawar. Nethuns seringkali disamakaan dengan dewa Neptunus dari Romawi, yang juga pada mulanya merupakan dewa sumur dan mata air, sebelum kemudian Neptunus mengadopsi atribut dari dewa laut Yunani, Poseidon.
Nethuns digambarkan memiliki hiasan kepala berbentuk ketos (monster laut), memegang trisula dan didampingi oleh dua ekor lumba-lumba. Ada ukiran tentang Nethuns di cermin perunggu di Museum Vatikan.

Spoilerfor Dewa-Dewi:

Uni

Uni membiarkan payudaranya dikenyot oleh putranya, Hercle.
Uni adalah dewi cinta dan pernikahan. Dia adalah istri dewa langit, Tin. Uni disamakan dengan dewa Juno dari Romawi, selain juga dengan Thaina. Uni dikaitkan dengan daerah Perugia.
Bersama Tin dan Menrva, Uni membentuk suatu triad berkuasa dalam pantheon Etruska.
Menurut legenda Etruska, Uni dan Tin merupakan orang tua Hercle, nama Etruska bagi pahlawan Herakles atau Hercules.

Spoilerfor Dewa-Dewi:

Sethlans

Sethlans, Vulcan, dan kuda Troya.
Sethlans adalah dewa api, pandai besi, dan keahlian tangan dalam mitologi Etruska. Dia kemungkinan berkaitan dengan Hefaistos dari mitologi Yunani dan Vulcan dari mitologi Romawi, yang kesemuanya merupakan dewa api dan pandai besi.
Sethlans merupakan salah satu dewa asli Etrusa. Dalam seni Etruska, Sethlans dapat diidentifikasi dari peralatannya, yaitu palu dan penjepit pandai besi, serta dari pileus atau topi kerucut yang dia pakai.

Spoilerfor Dewa-Dewi:
 

Tin

Tin pada koin Romawi.
Tin, disebut juga Tinh, Tins, Tinia, atau Tina, adalah dewa langit dan dewa paling berkuasa dalam mitologi Etruska. Tin atau Tinia disamakan dengan dewa Jupiter dari Romawi dan dewa Zeus dari Yunani, karena mereka semua sama-sama memiliki petir.
Istri Tin adalah Uni. Mereka berdua bersama dengan dewi Mnerva membentuk suatu triad berkuasa dalam pantheon Etruska, mirip dengan triad Jupiter, Juno, dan Minerva, yang mana mereka saling berbagi kuil di Capitol. Triad Tin, Uni, dan Menrva memiliki kuil di tiap kota di Etruria.
Tin adalah ayah Hercle.
Tin kadang-kadang digambarkan sebagai pria berjanggut yang sedang duduk atau kadang-kadang sebagai pria tak berjanggut yang sedang berdiri. Tin biasanya ditemani oleh elang, dan kadang-kadang kapalanya bemahkotakan karangan bunga ivy.
Julukan Tin antara lain Tin Cilens, Tin Tuf dan Tins Tne.

Garuda, Lambang dan Mitologi

Lambang Negara Republik Indonesia adalah BURUNG GARUDA. Mengapa Negara kita menggunakan lambang Negara seperti itu? Sejak kapan kita menggunakan lambang Negara tersebut? Apa saja arti dari Lambang Negara RI itu?



Garuda (Sanskerta: Garuḍa dan Bahasa Pāli Garula) adalah salah satu dewa dalam agama Hindu dan Buddha. Ia merupakan wahana Dewa Wisnu, salah satu Trimurti atau manifestasi bentuk Tuhan dalam agama Hindu. Garuda digambarkan bertubuh emas, berwajah putih, bersayap merah. Paruh dan sayapnya mirip elang, tetapi tubuhnya seperti manusia. Ukurannya besar sehingga dapat menghalangi matahari.

Bangsa Jepang juga mengenal Garuda, yang mereka sebut Karura. Di Thailand disebut sebagai Krut atau Pha Krut.

Indonesia dan Thailand menggunakan Garuda sebagai lambang negaranya. Ibukota mongolia, Ulan Bator juga menggunakan burung garuda sebagai lambang.

Dua Negara dengan Lambang relatif sama yaitu burung Garuda. Negara yang satu penduduknya memang banyak yg beragama BUDHA, sedangkan negara yg satu lagi penduduknya katanya menghargai keBUDHAyaan bangsa ....


Lambang ibukota mongolia, Ulan bator



Garuda menurut Mitologi Hindu
Garuda adalah seekor burung mitologis, setengah manusia setengah burung, wahana Wisnu. Kisah tentang burung Garuda ditemukan di Kitab Mahabharata, lebih tepatnya bagian pertama yaitu Adiparwa. Ceritanya Garuda adalah anak dari Begawan Kasyapa. Begawan Kasyapa memiliki dua istri, yaitu Sang Kadru dan Sang Winata. Setelah sekian lama, mereka belum juga memiliki anak. Lalu Kasyapa memberikan 1000 telur pada Kadru dan 2 telur pada Winata. Telur milik Kadru menetas menjadi 1000 ekor ular sakti, dan milik Winata belum. Karena Winata merasa malu, lalu ia memecah satu telur tersebut. Keluarlah seekor burung kecil yang belum sempurna bentuknya, cacat tak berkaki, diberi nama Anaruh. Telur yang tinggal 1 itu dijaga baik-baik oleh Winata.

Suatu hari, Winata kalah bertaruh dengan Kadru karena kecurangan kadru yang membuat Winata harus menjadi budak dan melayani Kadru beserta 1000 ekor ular. Dan telur Winata satunya pun akhirnya menetas menjadi Garuda. Besar, gagah, bersinar, dan sakti. Untuk menolong ibunya, Kadru menyuruh Garuda mengambil Amerta, air kehidupan milik dewa. Amerta dijaga para dewa dan dikelilingi api yang menyala. Garuda pun melawan para dewa dan menyembur dengan air laut untuk mematikan api tersebut. Pesan ibunya, “bila menelan orang lehermu terasa panas, itu tandanya Brahmana ikut termakan. Muntahkanlah, karena ia seperti ayahmu Begawan Kasyapa. Kamu harus menghormatinya”.

Berhasillah Sang Garuda merebut Amerta. Lalu dibawanya ke Kadru untuk menyelamatkan ibunya. 1000 ular sangat senang melihat amerta dan kemudian Winata dibebaskan, tetapi Garuda tak kehilangan akal. Dikibas-kibaskan sayapnya agar para ular menjadi kotor, dan mereka pergi membersihkan badan mereka di sungai. Saat para ular pergi, Garuda membawa Amerta kembali. Di perjalanan ia bertemu dengan Dewa Wisnu, meminta untuk Amerta diserahkan kembali kepada para dewa. Dan Sang Garuda pun menjadi tunggangan Dewa Wisnu.




Nama-nama Garuda
Garuda memiliki banyak nama dan julukan. Di bawah ini disajikan nama-namanya berikut artinya:


Nama-nama lain Garuda
    Kaśyapi
    Wainateya
    Suparṇna
    Garutmān
    Dakṣāya
    Śālmalin
    Tārkṣya
    Wināyaka




Nama-nama julukan
    Sitānana, ‘wajah putih hijau’.
    Rakta-pakṣa, ‘sayap merah’.
    Śweta-rohita, ‘sang putih merah’.
    Suwarṇakāya, ‘tubuh emas’.
    Gaganeśwara, ‘raja langit’.
    Khageśwara, ‘raja burung’.



Relief garuda memanggul wanita di candi singosari

    Nāgāntaka, ‘pembunuh naga’.
    Pannaganāśana, ‘pembunuh naga’.
    Sarpārāti, ‘musuh ular-ular’.
    Taraswin, ‘yang cepat’.
    Rasāyana, ‘yang bergerak cepat sebagai perak’.
    Kāmachārin, ‘yang pergi sesukanya’.
    Kāmāyus, ‘yang hidup dengan senang’.
    Chirād, ‘makan banyak’.
    Wiṣṇuratha, ‘kereta Wisnu’.
    Amṛtāharaṇa, ‘pencuri amerta’.
    Sudhāhara, ‘pencuri’
    Surendrajit, ‘penakluk Indra’.
    Bajrajit, ‘penakluk kilat’.












Mengapa Garuda dipakai sebagai Lambang Negara Indonesia
Pada waktu itu Indonesia sedang mencari jati diri dibawah pimpinan Soekarno. Soekarno melihat bahwa kebudayaan indonesia yang asli adalah indonesia dimasa kerajaan2 hindu dan budha terutama pada puncaknya adalah Majapahit.

Kepala Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang belum selesai
Maka waktu itu digalilah dengan gencar nilai-nilai sosial dan budaya dari kerajaan-kerajaan itu, untuk diterapkan kembali pada negara Indonesia yang baru. salah satunya adalah warna bendera Indonesia yang notabene adalah bendera kerajaan Majapahit.

GWK kurang lebih akan spt ini
Untuk lambang negara, Soekarno mengadakan sebuah sayembara. Dan akhirnya dia tertarik pada rancangan Sultan Hamid II yang berupa burung garuda (waktu itu belum spt sekarang). Ketertarikan Soekarno ini karena rancangan Sultan Hamid II dia pikir sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia, yaitu kehindu-an dan kebudha-an.

Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950. Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno. Tanggal 20 Maret 1950, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.

Bangsa Indonesia bersukur karena umat islam yang banyak di negara indonesia saat ini, bisa dikatakan tidak ada yang memprotes lambang negara yang diambil dari mitologi hindu dan budha ini. Juga tidak ada yang berniat merubah lambang negara menjadi kaligrafi seperti foto dibawah ini:

Lambang Kerajaan Samudera Pasai
Jika diperhatikan sekilas, lambang kerajaan Aceh itu memang mirip dengan Garuda Pancasila. Lambang itu dibentuk dari kaligrafi arab menyerupai burung garuda. Di bagian tengah badannya terlihat kotak dengan rangkaian tulisan berwarna merah dan biru. Lambang ini berisi kalimat Tauhid dan Rukun Islam. Rinciannya, kepala burung itu bermakna Basmallah, sayap dan kakinya merupakan ucapan dua kalimat Syahadat. Terakhir, badan burung itu merupakan Rukun Islam.