Orang-orang Eropa Mulai Terkena Tipuan

Benua Eropa bisa jadi merupakan impian banyak orang. Tata kota teratur, penghasilan yang "relatif" lebih besar, 4 musim, dan banyak lagi. Nyatanya, krisis moneter yang terjadi beberapa tahun terakhir semakin mengkhawatirkan penduduknya.

Pemerintahan di negara-negara Eropa ditengarai jadi biang keladi. Rupanya kebohongan alias janji palsu tidak saja dirasakan di Indonesia, di sana pun sama saja kasusnya. Menjelang Pemilu Partai-Partai politik mengumbar janji-janji yang menggiurkam tapi setelah menang Pemilu semua janji-janji yang menyenangkan itu dicampakkan begitu saja.

Ilustrasi demo / efinancialnews.com

Sebagai contoh di Belanda. Dulu usia pensiun adalah yang diimpikan dengan jaminan hari tua yang sangat lumayan dan bahkan pernah yang terbaik di seluruh Eropa  dan bahkan juga salah satu yang terbaik di  dunia. Sekarang semua itu cumalah nostalgia pahit untuk dikenang.

Politik penghematan Pemerintah Belanda yang sudah berlangsung tanpa henti semakin memiskinkan golongaan kaum pensiunan atau pada umumnya para orang tua jompo.

Apa yang pernah mereka nikmati sebagai hasil jerih payah kerja keras selama puluhan tahun bekerja berat telah semakin dipreteli oleh Pemerintah: 

1. Layanan kesehatan semakin dikurangi atau hingga tiada

2. Uang pensiun dipotong

3. Ongkos hidup di rumah jompo sudah hampir tak mungkin terbayar dan sebagian besar terpaksa(dipaksa) di pulangkan ke keluarganya masing-masing

4. Alat-alat penopang ketuaan seperti kereta (rolator) atau scooter roda tiga harus beli sendiri bahkan hingga tongkatpun harus sewa atau beli sendiri 

5. Obat-obatan yang dibayar oleh asuransi dikurangi dan sebagian harus dibyar sendiri 

6. Uang "tanggung risiko  sendiri" dinaikkan hingga 350 euro per tahun (dulu 250 euro)

7. Semua obat-obatan diganti dengan kualitas murahan yang cukup sering menimbulkan korban hingga kematian karena tidak cocok atau kualitas yang sangat rendah.

Belum lagi korban akibat salah hitung dari bank pensiun atau dinas pajak (belasting)  yang dengan alasan: dibayar terlalu banyak" dan si penerima(pensiunan) harus mengembalikan uang "kelebihan" yang pernah diterimanya hingga ribuan euro kepada Pemerintah.

Kecelakaan ini bisa menimpa setiap orang yang dalam sekejap bisa kalang kabut dan  bahkan jatuh miskin karena hutang dan bahkan hingga penjara. Para korban "penerima  yang tertuduh bukan haknya"ini mutlak harus mengembalikan uang "kelebihan"itu pada Pemerintah dan tidak seorangpun yang bisa mengerti mengapa hal itu bisa terjadi.

Sekadar info, rakyat Belanda terkenal sebagai pekerja keras dan bangsa yang hemat. Pada umumnya orang Belanda sudah mulai bekerja sejak usia yang sangat muda.

Orang Belanda rata-rata bekerja selama 40 tahun dan itu adalah waktu yang normal bagi orang Belanda.Tidak sedikit yang bekerja selama 50 tahun dan  bahkan ada yang hingga 60 tahun  barulah menikmati  hari tuanya dengan uang pensiun yang  sangat lumayan dan bahkan lebih dari cukup. Boleh dibilang bangsa Belanda adalah bangsa  pekerja yang hanya bisa dibandingkan dengan orang Jepang.

Ironisnya, saat di Italia, Spanyol, Yunani, Portugal dan Griekenland menyambut politik penghematan Pemerintah dengan demonstrasi hampir setiap hari dan tampaknya akan semakin merambat ke seluruh Eropa, di Belanda masih tampak adem ayem. Konon, mereka sudah  bosan demonstrasi karna tahu betul tidak akan ada hasilnya atau sia-sia belaka.

Begitulah, sebenarnya tinggal di mana pun selama di bumi ini tetap sama saja. Atau, masih ada yang tetap menyimpan benci pada negara sendiri, Indonesia dan berminat pindah ke benua 'impian' tersebut? Silakan, gan...






Sumber:blog